Rabu, 28 November 2007

PENDIDIKAN KEJURUAN DAN PERMASALANNYA

Pendidikan kejuruan diharapkan mampu menyelesaikan masalah pengangguran dari tamatan sekolah menengah atas, karena materi praktek sekitar 60% sedang teori 40%, Pendidikan SMK itu sendiri bertujuan "meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional".

Pendidikan kejuruan di indonesia saat ini lagi di kembangkang secara besar besaran mulai dari pelosok desa hingga perkotaan, semua berlomba-lomba membuka pendidikan kejuruan, entah hanya untuk menaikkan pamor dari lembaga tertentu atau ingin mengharapkan hasil yang banyak, tapi itu semua tergantung niatan dari individu pengelola.

Dengan dibukanya pendidikan kejuruan pada beberapa daerah, SMK membuka program studi yang dianggap lagi banyak peminatnya, seperti program keahlian Mesin Otomotif dan Komputer, diluar dugaan peminat dari prgram keahlian tersebut banyak peminanatnya pada tahun ajaran baru. Sejalan dengan proses belajar mengajar sekolah sedikit demi sedikit membenahi kekurangnya diantaranya, (1) kurangnya tenaga pengajar di semua bidang keilmuan (2) kurangnya fasilitas lab atau bengkel, (3) Mencari tempat magang para siswanya, (4) Mencari peluang untuk lulusannya.

Dari beberapa SMK yang kekurangan tenaga pengajarnya biasanya mengambil tenaga pengajar dari tenaga yang bukan bidang keahliannya, walaupun sipengajar pada saat wawancara menyatakan bisa dan siap belajar sambil mengajar, pada beberapa pengajar ada yang dari praktisi dalam suatu bidang ilmunya atau dari sekedar bisa di bidang ilmu itu sehingga mengajar sambil belajar.

Melihat dari kurangnya tenaga pengajar pada bidang keilmuan, beberapa pengajar yang sesuai dengan bidangnya, bisa mengajar sampai lebih dari dua SMK, sehingga pada waktu datang kesekolah yang terakhir kondisi payah dan capek, berakibat pada proses mengajarnya, karena guru orang yang sangat berkuasa dikelas maka siswa disuruh mencatat atau belajar sendiri. Masalah yang kedua kurnya fasilitas lab, bangkel, pada jurusan teknik komputer dan jaringan pada program studi ini sangat banyak peminatnya sehingga salah satu sekolah bisa menanpung dalam satu kelasnya empat puluh (40) siswa kalau pada kelas satu ada empat kelas dan kelas dua tiga kelas dan kelas tiga dua kelas maka kapan dan berapa jam kesempatan tiap siswa bisa mengoperasikan kompueter pada lab nya.

Pada jurusan budidaya ikan, kelas satu ada dua puluh lima (25) siswa dan kelsa dua ada 30 siswa sedang kelas tiga ada enam puluh siswa yang dibagi menjadi dua kelas, sedang sekolahan hanya punya kolam empat ukuran (1.5 m x 2.5 m), maka kapan siswa akan bisa komsentrasi belajar membudidayakan ikannya?

K3 kebakaran

1. Pendahuluan
Pada Sekolah Kejuruan terdapat mata pelajaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), karena siswa SMK lebih sering praktek di Bengkel, Lab yang memungkinkan sekali terjadi kecelakaan. Kecelakaan banyak terjadi pada siswa karena mereka kurang dalam memperhatikan keselamatan, meskipun pada mata diklat sudah ada pelajaran K3. Bahaya kebakaran harus dipahami oleh setiap orang, karena kebakaran bisa terjadi dimana-mana, selain merugikan diri sendiri juga orang lain. Kebakaran yang terjadi dirumah tangga bisa mengganggu tetangga sebelah, kebakaran dibengkel sekolah akan merugikan pihak sekolah.

Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan akibat kebakaran Pemerintah mengeluarkan undang – undang yaitu UU No. 1 Tahun 1970 “Dengan perundangan ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran”. Yang dilanjutkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja disebutkan dalam Pasal ayat 1 “Pengurus atau Perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penganggulangan kebakaran di tempat kerja”. Bahan yang mudah kebakar diklafisikasikan menurut daerah masing – masing, klasifikasi kebakaran di Indonesia mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per. 04/Men/1980 tanggal 14 April 1980 Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Klasifikasi tersebut adalah, Klas A: Bahan bakar padat (bukan logam), Klas B: Bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar, Klas C: Instalasi listrik bertegangan, Klas D: Kebakaran logam Klasifikasi di Eropa sesudah tahun 1970 mengacu kepada Comite European de Normalisation sebagai berikut: Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu, Klas B: Bahan bakar cair. Contoh: bensin, solar, spiritus dan lain sebagainya, Klas C: Bahan bakar gas. Contoh: LNG, LPG dan lain sebagainya, Klas D: Bahan bakar logam. Contoh: magnesium, potasium dan lain sebagainya. Klasifikasi Amerika National Fire Protection Association (NFPA)sebagai berikut: Klas A: Bahan bakarnya bila terbakar meninggalkan abu, Klas B: Bahan bakar cair atau yang sejenis, Klas C: Kebakaran karena listrik, Klas D: Kebakaran logam. Klasifikasi Amerika U.S. Coast Guard sebagai berikut: Klas A: Bahan bakar padat, Klas B: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih kecil dari 170 derajat Fahrenheit dan tidak larut dalam air misalnya: bensin, benzena dan lain sebagainya, Klas C: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih kecil dari 170 derajat Fahrenheit dan larut dalam air misalnya: ethanol, aceton dan lain sebagainya, Klas D: Bahan bakar cair dengan titik nyala lebih besar atau sama dengan 170 derajat Fahrenheit dan tidak larut dalam air misalnya: minyak kelapa, minyak pendingin trafo dan lain sebagainya, Klas E: Bahan bakar cair dengan titik nyala sama dengan atau lebih tinggi dari 170 derajat Fahrenheit dan larut dalam air misalnya: gliserin, etilin dan lain sebagainya, Klas F: Bahan bakar logam misalnya: magnesium, titanium dan lain sebagainya,Klas G: Kebakaran listrik.

2. Tindakan pencegahan terhadap kecelakaan akibat kebakaran.

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran yang perlu diperhatikan adalah teknik dan taktik pemadaman kebakaran. Kebakaran sering terjadi karena kelalaian, kurang pengetahuan, peristiwa alam, disengaja. Media pemadam api yang biasa digunakan antara lain: air, busa, karbon dioksida, gas halon serta pasca halon dan serbuk kimia kering.

Dengan seringnya terjadi kebakaran, maka dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi para ilmuwan menciptakan berbagai alat pemadam api. Alat pemadam api dapat dikategorikan menjadi, satu alat pemadam api gerak yaitu yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain contohnya alat pemadam api ringan (APAR), mobil pemadam api, kedua pemadam api instalasi permanen contoh springkle, hydrant.

Untuk pencegahan kebakaran yang lebih besar seharus ada alat tanda bahaya kebakaran yang berupa Detektor Asap, Detektor Panas. Sehingga bisa diketahui adanya kebakaran secepat mungkin.

3. Langkah-Langkah ketika terjadi kebakaran.

Selamatkan orang lain yang ada di tempat kejadian dalam usaha memadamkan api selama masih mampu mengerjakan. Bunyikan bel atau lonceng dengan jalan memecahkan kaca fire alarm yang terdekat untuk memberitahukan adanya bahaya kebakaran. Laporkan kejadian di tempat terjadianya kebakaran ke salah seorang petugas jaga atau piket ke kantor atau pemimpin untuk mendapatkan bantuan dari dalam dan luar. Hentikan semua kegiatan pekerjaan, hentikan pula semua mesin-mesin dan putuskan semua aliran listrik, tutup dan amankan semua tempat-tempat gas.

Bukalah semua pintu keluar dan keluarkan semua orang atau pekerja yang tidak bertindak mengatasi kebakaran. Tempatkan semua orang yang keluar itu di suatu tempat yang tenang dan aman, segeralah dipanggil menurut daftar hadir. Bila ternyata seseorang tidak ada dalam panggilan, segeralah teliti dimana orang itu.